Kamis, 23 Mei 2013 - 06:26:22 WIB
Monumen Sebelas Digulis
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Pemerintahan - Dibaca: 3099 kali

Monumen Sebelas Digulis Kalimantan Barat, disebut juga sebagai Tugu Digulis atau Tugu Bambu Runcing atau Tugu Bundaran Untan oleh warga setempat, merupakan sebuah monumen yang terletak di Bundaran Universitas Tanjungpura, Jalan Jend. Ahmad Yani, Kelurahan Bansir Laut, Kecamatan Pontianak Tenggara, Kota Pontianak.


Monumen yang diresmikan oleh Gubernur Kalimantan Barat H. Soedjiman pada 10 November 1987 ini pada awalnya berbentuk sebelas tonggak menyerupai bambu runcing yang berwarna kuning polos. Pada tahun 1995, monumen ini dicat ulang dengan warna merah-putih. Penggunaan warna merah-putih ini menjadikan sebagian warga menganggap monumen ini lebih mirip lipstik daripada bambu runcing. Kemudian, pada tahun 2006 dilakukan renovasi pada monumen ini sehingga berbentuk lebih mirip bambu runcing seperti penampakan saat ini.


Monumen ini didirikan sebagai peringatan atas perjuangan sebelas tokoh Sarekat Islam di Kalimantan Barat, yang dibuang ke Boven Digoel, Irian Barat karena khawatir pergerakan mereka akan memicu pemberontakan terhadap pemerintah Hindia Belanda di Kalimantan. Tiga dari sebelas tokoh tersebut meninggal pada saat pembuangan di Boven Digoel dan lima di antaranya wafat dalam Peristiwa Mandor. Nama-nama kesebelas tokoh tersebut kini diabadikan juga sebagai nama jalan di Kota Pontianak. Kesebelas pejuang itu antara lain:

  1. Achmad Marzuki, asal Pontianak, meninggal karena sakit dan dimakamkan di makam keluarga
  2. Achmad Su`ud bin Bilal Achmad, asal Ngabang, wafat dalam Peristiwa Mandor
  3. Gusti Djohan Idrus, asal Ngabang, wafat dalam pembuangan di Boven Digoel
  4. Gusti Hamzah, asal Ketapang, wafat dalam Peristiwa Mandor
  5. Gusti Moehammad Situt Machmud, asal gabang, wafat dalam Peristiwa Mandor
  6. Gusti Soeloeng Lelanang, asal Ngabang, wafat dalam Peristiwa Mandor
  7. Jeranding Sari Sawang Amasundin alias Jeranding Abdurrahman, asal Melapi, Kapuas Hulu, meninggal karena sakit di Putussibau.
  8. Haji Rais bin H. Abdurahman, asal Ngabang, wafat dalam Peristiwa Mandor
  9. Moehammad Hambal alias Bung Tambal, asal Ngabang, wafat dalam pembuangan di Boven Digoel
  10. Moehammad Sohor, asal Ngabang, wafat dalam pembuangan di Boven Digoel
  11. Ya Moehammad Sabran, asal Ngabang, meninggal karena sakit. (id.wikipedia.org)

Dan sejak awal bulan April 2013, Pemerintah Kota Pontianak mulai membangun fasilitas air mancur di Bundaran Tugu Digulis senilai Rp.5 Milyar yang diserap dari anggaran APBD Kota Pontianak (www.antarakalbar.com)

Tentunya keberadaan air mancur di yang mengelilingi patung bambu runcing di lokasi Bundaran Digulis Universitas Tanjungpura ini, diharapkan dapat menjadi daya tarik dan ikon baru di Kota Pontianak.
Seperti yang diungkapkan Wali Kota Pontianak, Sutarmidji bahwa lokasi ini akan dibangun ada air mancur dengan 300 nozzle air mancur lebih banyak daripada di alun-alun kapuas yang hanya 135 nozzle. Walikota Pontianak, Sutarmidji juga mengatakan rencana pembangunan air mancur di bundaran Untan merupakan masukan dari masyarakat. *Masyarakat yang mengatakan alangkah baiknya di tugu digulis itu ada air macur seperti di bundaran Hotel Indonesia (HI) di Jakarta. Pemkot merespon itu sehingga akan kita buat dan bisa dinikmati masayarakat Kota Pontianak sehingga lebih sejuk dan nyaman,* jelasnya (Tribunpontianak.co.id)