Rabu, 22 Mei 2013 - 20:29:27 WIB
Penghijauan dalam pandangan Islam
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Inspirasi-Religi - Dibaca: 4057 kali

Kita ketahui bersama sekarang ini dinegara kita sedang digalakkan program penghijauan, dimana –mana terlihat reklame atau iklan layanan masyarakat dalam rangka sosialisasi dan promosi penghijauan, baik itu media audio visual maupun, media visual saja. Bahkan dijalan-jalan pernah terlihat sekumpulan anak muda penggiat Lingkungan Hidup, juga beberapa BUMN dan aktivis lingkungan membagikan bibit bibit pohon untuk ditanam dimana saja. Yang tak kalah aktivnya, Walikota Pontianak pun menggalakkan menanam pohon untuk penghijauan, beliau mengikut sertakan Lurah, Camat, SKPD dan aparaturnya untuk menanam pohon yang langsung beliau dedikasikan dibeberapa tempat yang tersebar di kota Pontianak serta tak lupa menghimbau dan mengajak masyarakat Kota Pontianak untuk ikut didalam program ini , guna menjadikan wilayah kita wilayah yang hijau, teduh, menyenangkan, tertib, indah dan tak berbau.

 
Sungguh, mereka para pemuda penggiat lingkungan, beberapa karyawan BUMN, aktivis lingkungan, Walikota beserta aparaturnya adalah orang-orang yang beruntung. Mereka beruntung menjadi bagian dari gerakan penghijauan, mereka beruntung menjadi bagian dari gerakan menanam pohon, yang akan Allah Azza wa jalla balas amal kebaikan mereka berupa menanam pohon ini, dengan berbagai amal kebaikan yang akan mengalir terus hingga hari kiamat. Karna menanam pohon juga merupakan bagian dari amal soleh.

 

Mari kita perhatikan sebuah hadits yang telah masyhur, dari Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam, yang diriwayatkan Imam Muslim (semoga Allah merahmatinya), dimana Rasulullah Shalallahu `Alaihi Wasallam bersabda :


إِذَا مَاتَ اْلإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

"Jika seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah seluruh amalannya, kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah (yang mengalir pahalanya), ilmu yang dimanfaatkan, dan anak shaleh yang mendo`akan kebaikan baginya".


Salah satu diantara perkara yang tak akan terputus amalannya bagi seorang manusia, walaupun ia telah meninggal dunia adalah SEDEKAH JARIYAH, dimana sedekah tersebut akan terus mengalir pahalanya bagi seseorang tersebut walaupun ia telah wafat. Adapun syarah mengenai hadits ini, Para ahli ilmu menyatakan bahwa sedekah jariyah memiliki banyak macam dan jalannya, seperti membuat sumur umum, membangun masjid, membuat jalan atau jembatan, menanam tumbuhan baik berupa pohon, biji-bijian atau tanaman pangan, dan lainnya. Jadi telah jelas bukan bahwa, menghijaukan lingkungan dengan tanaman yang kita tanam merupakan sedekah dan amal jariyah bagi kita –walau pun kita nantinya telah meninggal- namun selama tanaman itu tumbuh dan bermanfaat bagi orang lain maka amalnya akan terus menerus kita dapatkan.


Selain itu kita selaku seorang muslim ketika menanam pohon atau tanaman tak akan pernah rugi di sisi Allah -Azza wa Jalla-, sebab tanaman tersebut akan dirasakan manfaatnya oleh manusia dan makluk lain seperti hewan, bahkan bumi yang kita tempati juga merasakan manfaatnya. Jadi tanaman yang pernah kita tanam, kemudian diambil atau bermanfaat bagi siapa saja, baik sesuatu yang halal, maupun pemanfaatannya oleh orang lain untuk sesuatu yang haram, maka kita sebagai penanam tetap mendapatkan pahala, sebab tanaman yang diambil tersebut berubah menjadi sedekah bagi kita. Subhanallah.

Didalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Muslim Rahimahullah, Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا إِلَّا كَانَ مَا أُكِلَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةً وَمَا سُرِقَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةٌ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ مِنْهُ فَهُوَ لَهُ صَدَقَةٌ وَمَا أَكَلَتْ الطَّيْرُ فَهُوَ لَهُ صَدَقَةٌ وَلَا يَرْزَؤُهُ أَحَدٌ إِلَّا كَانَ لَهُ صَدَقَةٌ


"Tak ada seorang muslim yang menanam pohon, kecuali sesuatu yang dimakan dari tanaman itu akan menjadi sedekah baginya, dan yang dicuri akan menjadi sedekah. Apa saja yang dimakan oleh binatang buas darinya, maka sesuatu (yang dimakan) itu akan menjadi sedekah baginya. Apapun yang dimakan oleh burung darinya, maka hal itu akan menjadi sedekah baginya. Tak ada seorangpun yang mengurangi, kecuali itu akan menjadi sedekah baginya" .


Al-Imam Abu Zakariyya Yahya Ibn Syarof An-Nawawiy -rahimahullah- ketika menjelaskan faedah-faedah dari hadits yang mulia ini, ia berkata "Di dalam hadits-hadits ini terdapat keutamaan menanam pohon dan tanaman, bahwa pahala pelakunya akan terus berjalan (mengalir) selama pohon dan tanaman itu ada, serta sesuatu (bibit) yang lahir darinya sampai hari kiamat masih ada.


Jadi jelaslah sudah, pahala sedekah yang dijanjikan oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- di dalam haditsnya, yang akan diraih oleh orang yang menanam, walapun orang yang menanam tidak meniatkan tanamannya untuk diambil atau dirusak orang dan hewan, jadi kalaulah nantinya tanaman kita itu dirusak oleh manusia atau hewan , hal tersebut tetap menjadi sedeqah bagi yang menanam.
Al-Hafizh Abdur Rahman Ibnu Rajab Al-Baghdadiy -rahimahullah- berkata, "Lahiriah hadits-hadits ini seluruhnya menunjukkan bahwa perkara-perkara ini merupakan sedekah yang akan diberi ganjaran pahala bagi orang yang menanamnya, tanpa perlu maksud dan niat". Untuk lebih jelasnya kita bisa merujuk ke Iqozh Al-Himam Al-Muntaqo min Jami` Al-Ulum wa Al-Hikam karya besar Asy-Syaikh Salim `Ied Al-Hilaliy.


Jadi Penghijauan alias REBOISASI merupakan amalan sholeh yang mengandung banyak manfaat bagi manusia di dunia, dan untuk membantu kemaslahatan akhirat manusia. Dan sudah tentu Tanaman dan pohon yang ditanam oleh seorang muslim akan memiliki banyak manfaat, seperti untuk berteduh dari panas, penghasil oksigen, menjadi naungan bagi manusia dan hewan yang lewat, selain itu buah dan daunnya terkadang bisa dimakan, batangnya bisa dibuat menjadi berbagai macam peralatan, akarnya bisa mencegah terjadinya erosi dan banjir, daunnya bisa menyejukkan pandangan bagi orang melihatnya, menjadi pelindung dari gangguan tiupan angin, membantu sanitasi lingkungan dalam mengurangi polusi udara, dan masih banyak lagi manfaat tanaman dan pohon yang tidak sempat kita sebutkan di sini. Nah melihat demikian banyaknya manfaat dari REBOISASI alias penghijauan, maka tak heran jika agama kita memerintahkan umatnya untuk memanfaatkan tanah dan menanaminya sebagaimana yang dijelaskan oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dalam hadits-hadits lainnya, seperti dimana beliau pernah bersabda,


إِنْ قَامَتْ السَّاعَةُ وَبِيَدِ أَحَدِكُمْ فَسِيلَةٌ فَإِنْ اسْتَطَاعَ أَنْ لَا يَقُومَ حَتَّى يَغْرِسَهَا فَلْيَفْعَلْ

"Jika hari kiamat telah tegak, sedang di tangan seorang diantara kalian terdapat bibit pohon korma; jika ia mampu untuk tidak berdiri sampai ia menanamnya, maka lakukanlah". Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam Al-Musnad, Ath-Thoyalisiy juga dalam Al-Musnad, serta al-Imam Al-Bukhoriy di dalam Al-Adab Al-Mufrod. Selain itu hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Alamah al-Muhadits Syaikh Muhammad Nashirudin Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah. Dimana Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albaniy -rahimahullah- ahli hadits abad ini berkata saat, "Tak ada sesuatu (yakni, dalil) yang paling kuat menunjukkan anjuran bercocok tanam sebagaimana dalam hadits-hadits yang mulia ini, karena di dalamnya terdapat targhib (dorongan) besar untuk menggunakan kesempatan terakhir dari kehidupan seseorang dalam rangka menanam sesuatu yang dimanfaatkan oleh manusia setelah ia (si penanam) meninggal dunia. Maka pahalanya terus mengalir, dan dituliskan sebagai pahala baginya sampai hari kiamat".


Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- tidak mungkin memerintahkan suatu perkara kepada umatnya dalam kondisi yang genting dan sempit seperti itu, kecuali karena perkara tersebut amatlah penting, dan besar manfaatnya bagi manusia. Dan hal tersebut sudah jelas menunjukkan tentang keutamaan Penghijauan yang digalakkan oleh pemerintah kita –semoga Allah memberikan balasan kebaikan bagi mereka-.
bahkan saking besarnya manfaat dari penghijauan lingkungan alias REBOISASI ini, tanah yang dahulu kering kerontang bisa berubah menjadi tanah subur. Sungai yang dahulu gersang, dengan reboisasi bisa berubah menjadi ber-air. Dan jika kita mau sebentar saja membuka sebagian kitab-kitab hadits yang berisi keterangan dan petunjuk jalan hidup para salaf, para pendahulu kita dari kalangan sahabat dan generasi setelahnya, maka kita akan mendapatkan karakter manusia-manusia yang memiliki semangat dalam menggalakkan dan menegakkan perintah Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- termasuk dalam perkara penghijauan ini. Seorang tabi`in yang bernama Umaroh bin Khuzaimah bin Tsabit Al-Anshoriy Al-Madaniy -rahimahullah- berkata,


سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ يَقُوْلُ لأَبِيْ : مَا يَمْنَعُكَ أَنْ تَغْرِسَ أَرْضَكَ ؟ فَقَالَ لَهُ أَبِيْ : أَنَا شَيْخٌ كَبِيْرٌ أَمُوْتُ غَدًا ، فَقَالَ لَهُ عُمَرُ : أَعْزِمْ عَلَيْكَ لَتَغْرِسَنَّهَا, فَلَقَدْ رَأَيْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ يَغْرِسُهَا بِيَدِهِ مَعَ أَبِيْ

"Aku pernah mendengarkan Umar bin Khoththob berkata kepada bapakku, "Apa yang menghalangi dirimu untuk menanami tanahmu?" Bapakku berkata kepada beliau, "Aku adalah orang yang sudah tua, akan mati besok". Umar berkata kepadanya, "Aku mengharuskan engkau (menanamnya). Engkau harus menanamnya!" Sungguh aku melihat Umar bin Khoththob menanamnya dengan tangannya bersama bapakku". Hadits ini diriwayatkan Ibnu Jarir Ath-Thobariy sebagaimana dalam Ash-Shohihah.
Maka mari kita mencontoh mereka dalam perkara ini, niscaya kita akan mendapatkan keutamaan sebagaimana yang mereka dapatkan. Namun satu hal perlu kita ingat bahwa usaha dan program penghijauan seperti ini terpuji selama tidak melalaikan kita dari kewajiban-kewajiban kita lainnya. Wallahu `alam bish-shawab.